JAKARTA, DUTAMEDAN.COM – Menyambut Ramadan 1447 Hijriah, aktivitas produksi di lini perkebunan dan pengolahan sawit milik Holding Perkebunan PTPN III (Persero) terus ditingkatkan. Melalui subholding PTPN IV PalmCo, perusahaan memastikan pasokan minyak goreng tetap terjaga di tengah proyeksi lonjakan konsumsi rumah tangga menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Direktur Utama PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyampaikan bahwa peningkatan kebutuhan minyak goreng menjelang hari besar keagamaan merupakan pola tahunan yang telah diantisipasi sejak awal tahun.
Kami sudah memetakan kebutuhan pasar sejak awal tahun. Stok bahan baku dalam kondisi aman dan produksi ditingkatkan secara bertahap untuk memastikan kebutuhan domestik terpenuhi, ujar Jatmiko di Jakarta, pekan ini.
Produksi CPO Naik 10,5 Persen
Berdasarkan data internal perusahaan, produksi Crude Palm Oil (CPO) pada Januari 2026 melampaui 200.000 ton, lebih tinggi dari target bulanan. Memasuki Maret hingga April 2026—periode puncak konsumsi rumah tangga—PalmCo menargetkan kenaikan produksi sekitar 10,5 persen.
Dengan peningkatan tersebut, volume CPO pada April diproyeksikan mencapai sekitar 225.940 ton. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan pasokan serta meredam potensi lonjakan harga minyak goreng di pasar.
Stabilitas suplai menjadi kunci agar harga minyak goreng tetap terkendali, terutama saat permintaan meningkat signifikan menjelang Lebaran.
Fokus Hilir ke Minyak Kita
Di sektor hilir, strategi serupa dijalankan oleh anak usaha PalmCo, PT Industri Nabati Lestari (INL). Perusahaan menaikkan target produksi minyak goreng ritel menjadi sekitar 4,2 juta liter pada Maret, dan kembali ditingkatkan sekitar 7,6 persen menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026.
Pelaksana Tugas Direktur INL, Darwin Hasibuan, menjelaskan bahwa seluruh kapasitas produksi saat ini diprioritaskan untuk Minyak Kita, yakni merek minyak goreng program pemerintah yang bertujuan menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Produksi beberapa merek komersial internal kami hentikan sementara. Seluruh jalur distribusi dan kapasitas kami fokuskan untuk Minyak Kita agar ketersediaan di pasar tetap melimpah, katanya.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas harga bahan pokok selama Ramadan.
Komitmen Keberlanjutan Tetap Dijaga
Di tengah peningkatan volume produksi, PalmCo menegaskan komitmennya terhadap prinsip keberlanjutan. Dari total 71 pabrik kelapa sawit yang dikelola, sebanyak 67 unit atau 94,36 persen telah mengantongi sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Sementara itu, 68 pabrik atau 95,77 persen telah tersertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Selain sertifikasi, perusahaan juga memperkuat sistem keterlacakan bahan baku.
Beberapa pabrik seperti PKS Rambutan, PKS Sei Mangkei, PKS Bah Jambi, dan PKS Pulu Raja dijadikan proyek percontohan integrasi data kebun dan pabrik, sehingga asal tandan buah segar (TBS) dapat ditelusuri secara transparan.
Menurut Jatmiko, aspek keberlanjutan menjadi bagian integral dari strategi bisnis perusahaan.
Masyarakat membutuhkan kepastian bukan hanya soal harga dan ketersediaan, tetapi juga asal-usul bahan bakunya, ujarnya.
Melalui sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, peningkatan produksi CPO serta fokus distribusi pada minyak goreng bersubsidi diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga, sekaligus memastikan kebutuhan dapur masyarakat tetap terpenuhi selama Ramadan dan Idulfitri 2026. (Red/01)