MEDAN, DUTAMEDAN.COM – Suasana di kawasan Jalan Sei Rokan, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, mendadak memanas pada Kamis (23/4/2026). Ratusan pengemudi ojek online (ojol) berkumpul dan mendatangi salah satu kantor perusahaan pembiayaan setelah muncul dugaan tindakan penarikan sepeda motor secara paksa terhadap rekan mereka.
Kejadian ini sontak menarik perhatian warga sekitar karena jumlah massa yang cukup besar serta situasi yang sempat memicu ketegangan. Aksi solidaritas para driver ini dipicu oleh rasa keberatan dan kekhawatiran terhadap perlakuan yang dianggap tidak wajar terhadap salah satu rekan mereka.
Kronologi Kejadian: Berawal dari Order Offline
Berdasarkan informasi yang beredar, termasuk dari unggahan media sosial, insiden ini bermula saat seorang pengemudi ojol menerima pesanan antar di luar aplikasi resmi (offline). Praktik seperti ini memang kerap terjadi di lapangan, meski memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan order melalui aplikasi.
Namun, situasi berubah saat pengemudi tersebut tiba di lokasi tujuan. Ia mengaku dicegat oleh beberapa orang yang kemudian mengarahkannya masuk ke sebuah kantor yang berada tidak jauh dari lokasi tersebut.
Di dalam kantor itu, korban disebut mengalami tekanan. Ia diminta menyerahkan kunci sepeda motor beserta STNK, bahkan diminta menandatangani sejumlah dokumen. Yang menjadi persoalan, dokumen tersebut disebut tidak dijelaskan secara rinci—baik isi maupun tujuannya.
Kondisi ini memicu kecurigaan dan keresahan, terutama karena proses yang berlangsung dinilai tidak transparan.
Solidaritas Ojol: Kekhawatiran Meluas
Kabar mengenai kejadian tersebut dengan cepat menyebar di kalangan komunitas pengemudi ojol. Banyak driver merasa cemas bahwa modus serupa bisa saja terjadi kembali dan menimpa siapa saja.
Rasa solidaritas pun muncul. Dalam waktu singkat, ratusan pengemudi berkumpul dan mendatangi kantor yang diduga menjadi lokasi kejadian. Mereka datang bukan hanya untuk mencari kejelasan, tetapi juga untuk memastikan keamanan sesama rekan mereka.
Beberapa di antara mereka bahkan menyampaikan kekhawatiran bahwa praktik penarikan kendaraan secara sepihak tanpa prosedur yang jelas dapat merugikan driver, terutama yang masih memiliki tanggungan cicilan.
Situasi Memanas, Polisi Turun Tangan
Ketegangan di lokasi sempat meningkat seiring bertambahnya jumlah massa. Para pengemudi terlihat mencari pihak yang diduga melakukan penarikan kendaraan, sehingga suasana sempat sulit dikendalikan.
Pihak kepolisian akhirnya turun tangan setelah menerima laporan adanya potensi gangguan keamanan sekitar pukul 18.00 WIB. Petugas langsung menuju lokasi untuk meredam situasi dan mencegah terjadinya bentrokan.
Kapolsek Sunggal, Kompol Yunus Tarigan, membenarkan adanya perselisihan antara pengemudi ojol dengan pihak yang disebut sebagai penagih utang (debt collector) dari sebuah perusahaan pembiayaan.
Menurutnya, insiden tersebut terjadi di kantor PT CIP yang berada di Jalan Sei Rokan, Kota Medan.
“Awalnya kami menerima informasi adanya keributan antara pihak ojol dengan pihak penagih utang di lokasi tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (24/4/2026).
Upaya Pengamanan dan Mediasi
Saat tiba di lokasi, petugas mendapati ratusan pengemudi masih bertahan di sekitar kantor dan berusaha mencari petugas lapangan yang diduga terlibat dalam penarikan sepeda motor.
Melihat situasi yang berpotensi memanas, polisi mengambil langkah cepat dengan mengevakuasi perwakilan dari kedua belah pihak ke kantor polisi. Langkah ini dilakukan untuk menghindari eskalasi konflik yang lebih besar.
Proses mediasi kemudian berlangsung selama beberapa jam. Dalam suasana yang lebih kondusif, kedua pihak diberikan kesempatan untuk menyampaikan masing-masing sudut pandang.
Akhir Damai: Diselesaikan Secara Kekeluargaan
Setelah melalui diskusi panjang, kedua belah pihak akhirnya sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara damai. Mereka memilih jalur kekeluargaan tanpa melanjutkan ke proses hukum.
Kesepakatan ini sekaligus meredakan ketegangan yang sebelumnya sempat memuncak di lokasi kejadian.
“Kedua belah pihak sepakat berdamai dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan,” tutup Kompol Yunus.
Catatan Penting: Risiko Order Offline
Dari kejadian ini, ada pelajaran penting yang bisa diambil, khususnya bagi para pengemudi ojol. Menerima order di luar aplikasi memang bisa memberikan keuntungan tambahan, namun juga membawa risiko yang tidak sedikit—termasuk dari sisi keamanan dan perlindungan hukum.
Tanpa sistem resmi dari aplikasi, driver menjadi lebih rentan terhadap berbagai kemungkinan, mulai dari penipuan hingga konflik seperti yang terjadi dalam kasus ini.