DUTAMEDAN.COM – Banjir di Lingkungan Perdamaian, Kelurahan Tangkahan Durian, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, masih belum sepenuhnya surut. Di beberapa titik permukiman, tumpukan kayu dan puing-puing rumah masih terlihat, sementara banyak warga masih berupaya beradaptasi dengan dampak kehilangan, mulai dari rumah yang hanyut, peralatan dapur yang rusak, hingga aktivitas harian yang terhenti sejak air meluap.
Dalam situasi tersebut, Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga yang terdampak banjir. Bantuan ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat, terutama terkait air bersih, sanitasi, dan kebersihan (WASH), serta perlindungan bagi kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak-anak.
“Kami ingin bantuan sampai secepat mungkin, tapi tetap tepat sasaran,” kata Badriyah, Ketua YAFSI, pada Selasa, 10 Februari 2026. Ia menekankan bahwa respons darurat bencana perlu disertai pendekatan kemanusiaan sekaligus membuka peluang pemulihan berkelanjutan agar warga tidak terus berada dalam kondisi rentan.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai Sabtu hingga Senin, 7–9 Februari 2026. Pada hari pertama, tim menyalurkan shelter kit dan peralatan memasak kepada 27 keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat atau hanyut akibat banjir. Kemudian pada hari berikutnya, bantuan sembako disalurkan kepada 120 kepala keluarga yang terdampak.
Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak sebagai kelompok rentan yang sering kali kurang mendapat sorotan dalam situasi darurat. Pada hari terakhir, YAFSI meresmikan Ruang Ramah Anak sekaligus menyalurkan tas dan alat tulis kepada 110 anak. Ruang tersebut disiapkan sebagai tempat aman bagi anak-anak untuk bermain, belajar, sekaligus membantu pemulihan kondisi psikologis mereka.
Selain menyalurkan bantuan, YAFSI juga menggelar layanan dukungan psikososial bagi anak-anak dan orang tua selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Kegiatan meliputi menonton film bersama, permainan tradisional, serta sesi edukasi yang ditujukan untuk membantu keluarga menghadapi tekanan dan ketidaknyamanan setelah bencana.
“Ruang Ramah Anak ini bukan sekadar tempat bermain,” ujar Badriyah. “Kami melihatnya sebagai bagian dari proses pemulihan, agar anak-anak dan keluarganya kembali merasa aman dan perlahan bangkit.”
Peresmian Ruang Ramah Anak turut dihadiri Lurah Tangkahan Durian serta Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatra Utara. Kehadiran warga, tokoh masyarakat, serta kepala lingkungan menjadi wujud dukungan komunitas terhadap upaya pemulihan yang dilakukan secara bersama.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Sumatra Pulih dan Lestari yang dijalankan YAFSI bersama Penabulu-Oxfam, sebagai upaya memastikan bantuan kemanusiaan tidak berhenti pada respons darurat, melainkan menjadi langkah awal untuk memperkuat ketahanan warga, melindungi kelompok rentan, serta mendorong kesiapsiagaan desa menghadapi bencana yang semakin sering terjadi. (Red/01)