Minggu, Maret 1, 2026

Pendidikan Merupakan Bentuk “Konsumsi” Atau “Investasi” ?

Share

- Advertisement -

DUTAMEDAN.COM – Tahukah anda bahwa tujuan pendidikan tidak hanya terbatas dengan pencapaian akademik saja? Dalam perspektif Sosio-Ekonomi terdapat beberapa tujuan pendidikan, diantaranya peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan kesetaraan akses terhadap pendidikan, peningkatan produktivitas ekonomi, serta peningkatan kualitas hidup. Pierre Bourdieu, seorang sosiolog dari Perancis menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah memberdayakan siswa dari latar belakang sosio-ekonomi yang rendah dengan memberi mereka akses ke kapital budaya dan sosial yang mereka butuhkan untuk berhasil dalam masyarakat.

Dalam perspektif tradisional, pendidikan dianggap sebagai bentuk pelayanan sosial yang seharusnya diberikan kepada masyarakat oleh pemerintah. Karena menurut pandangan ini Pendidikan dianggap tidak berdampak langsung terhadap kemajuan ekonomi masyarakat dan hanya menghabiskan dana, sehingga tidak perlu mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pembangunan pendidikan. Intinya, menurut pandangan tradisional, pendidikan hanya bentuk konsumtif.

Konsep pendidikan sebagai investasi telah berkembang pesat dan menjadi keyakinan utama setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan adalah prasyarat penting bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainnya. Ide mengenai investasi dalam sumber daya manusia (human capital investment) yang mendukung pertumbuhan ekonomi sebenarnya telah dipikirkan oleh para teoritisi klasik sebelum abad ke-19 yang menekankan urgensi mengenai investasi pada keterampilan manusia.

Pemikiran ini menjadi titik balik pandangan mengenai pendidikan ketika Theodore Schultz pada tahun 1960 dalam pidatonya yang berjudul “Investment in Human Capital” menyampaikan bahwa proses memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan hanya merupakan tindakan konsumtif tetapi juga merupakan langkah investasi.

Selain itu, Shultz juga mengamati bahwa pengembangan sektor pendidikan dengan fokus pada manusia telah memberikan dampak langsung pada pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Salah satu contoh nyata bahwa pendidikan menjadi implikasi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara yaitu Jepang. Konon katanya, setelah serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasari oleh pasukan sekutu, kaisar bertanya kepada prajurit yang selamat,

“Berapa banyak guru yang tewas ?”. Alasan kaisar bertanya hal tersebut karena menurutnya guru merupakan pejuang untuk masa depan bangsa. Keseriusan Jepang dalam membangun kembali negaranya yang hancur akibat perang terbukti melalui komitmen mereka dalam menyelenggarakan pendidikan bagi rakyatnya. Komitmen itu berbuah manis, kini Jepang menjadi salah satu negara paling maju di dunia.

Berdasarkan data dari IMF (International Monetary Fund) diketahui GDP (Gross Domestic Bruto) Jepang tahun 2023 berada di peringkat 4 dunia, setelah Amerika Serikat, China, dan Jerman. Dilansir dari Global Business Network Inc www.gbni.co.jp bahwa salah satu alasan Jepang menjadi negara maju yaitu memiliki sistem Pendidikan yang berkualitas, dimana semua anak memiliki peluang yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensinya sehingga generasi masa depan memiliki dasar yang kuat untuk memimpin pembangunan dan inovasi di Jepang.

Berdasarkan penelitian Arria Lestari, Nocolaas Kandowangko, dan Jouke J. Lasut di Desa Buhia Mantehage Sulawesi Utara, ditemukan bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat krusial dalam meningkatkan kondisi ekonomi keluarga, seperti membantu orangtua merenovasi rumah, membantu menyekolahkan adik, serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan dan status sosial keluarga secara keseluruhan. Hal ini berarati pendidikan memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dari uraian sebelumnya, kita dapat menyimpulkan bahwa memperkaya sumber daya manusia melalui pendidikan memberikan dukungan langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan seharusnya dianggap sebagai investasi yang menguntungkan dan bukan sekadar pengeluaran konsumtif tanpa dampak positif yang nyata.

(ARTIKEL Ini Merupakan Tugas Mata Kuliah Kajian Pedagogik Magister Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia)

Duta Medan
Duta Medanhttps://dutamedan.com
Duta Media Informasi Online Teraktual-Terupdate-Tercepat Mengulas Tentang Berita Terkini Berisikan Kabar Seputar Identitas Nasional Indonesia. Talent in Medan City Support by GoogleNews

Berita Terbaru

Sumatera Terkini